Dari konser Slank di Depok:Its trully so sweet, not co cwiit!


Ada yang beda dari konser Slank yang kemarin gue datangi. Ada nuansa kekeluargaan yang menarik di sana. Meskipun rasa kekeluargaan itu tetap gak didapat secara keseluruhan, sedikit manisnya rasa keluarga itu muncul lewat cara yang gak biasa gue temui.

Konser Slank kemarin adalah rangkaian promo album terbaru mereka, Slow But Sure. Gue lupa, apa gue pernah mendatangi konser promo album mereka sebelumnya. Jadi, gue baru tau bahwa ternyata konser promo album ya seperti itu. Ya, mereka jelas membawakan sejumlah lagu baru dari album yang sedang dipromosikan. Selebihnya, mereka membawakan lagu lama yang dianggap cukup sesuai tema atau lagu yang emang booming banget untuk Slank. Dan untuk promo album ini, mereka terlihat sekali berusaha fokus di masalah lingkungan hidup. Ya, seperti lagu “Lapindo” yang berusaha memperlihatkan kepedulian mereka akan bencana lumpur panas di Sidoarjo. Yah, meskipun rasa-rasanya kepedulian mereka agak memaksakan. Tapi, jelas sekali mereka berusaha untuk memfokuskan diri pada masalah lingkungan. Misalnya, seperti yang ditunjukkan lewat layar besar di samping panggung yang memperlihatkan rekaman mereka bergulat di tengah sawah.

Sekadar iseng-iseng nih, kayaknya sponsor mereka juga memperlihatkan kecocokan dengan tema lingkungan yang mereka bawa. Di album ini Slank bergandengan dengan Minak Djinggo, yang kata kawan2 gue, itu adalah rokok jagung, rokok ndeso. Yah, tembakau atau jagung apa yang mereka maksud itu, rasanya membuat nuansa ndeso itu jadi muncul. Hehe, iseng banget ya mencocok2kan Minak Djinggo dengan ndeso? Bukan gitu, yang jelas terlihat sih, Minak Djinggo tampak ingin mengubah image produk mereka dengan mensponsori Slank yang komunitasnya anak muda. Seperti yang kebanyakan ada di benak anak2 muda, Minak Djinggo itu rokoknya orang tua. Bahkan, bokap gue yang tua gitu aja bilang Minak Djinggo itu rokoknya kakek2. He2… Dan yang gue lihat semalam itu benar adanya. Mereka dapat rokok kretek Djinggo gratis, barter sih sama sobekan kertas tiket. Namun, anak2 muda itu umumnya malas menghisap rokok itu. Gue sih gak tau apa beda rasa kretek sama filter yang dijadikan benteng alasan mereka kenapa gak mau menghisap kretek. Akhirnya, mereka lebih memilih untuk membarter rokok yang mereka dapat dengan air mineral. Satu bungkus Djinggo 4750 rupiah ditukar satu botol aqua 2000 rupiah. Kata mereka, lumayan.

Tapi, suasana ndeso yang katanya muncul lewat kretek itu, jelas gak muncul lewat lagu baru Slank lainnya. Dari lagu “My Scooter Love”, misalnya. Lagu itu ada untuk menggambarkan kegemaran baru anak2 Slank, Kaka khususnya. Seperti yang sering mereka tampilkan sendiri, mereka lagi seneng main skuter2an atau vespa2an. Hobi yang gak murah. Hobi senang2 memenuhi kebutuhan tersier. Jelas ini sangat tidak ndeso seperti yang ada di bayangan orang awam bahwa ndeso itu penuh kesederhanaan. Vespa biru Kaka juga muncul di panggung malam itu. Sayang kuping gue kurang awas. Suara ngegas yang dipakai untuk efek lagu “My Scooter Love” itu muncul asli dari vespa itu atau cuma rekaman. Gue sih curiga itu cuma rekaman karena di beberapa sesi break, mereka juga cuma memutar rekaman lagu aja.

Ini mungkin cerita biasa buat orang2 yang sering datang ke konser Slank. Buat gue sendiri, hmm, ini sih agak gak biasa. Menurut gue, mereka gak tampil maksimal. Entah ya, apa mungkin untuk konser promo memang hanya seperti ini yang bisa mereka kasih. Berita dari tentara penjaga yang bilang Slank akan bawain 23 lagu ternyata hanya jadi gosip belaka. Mereka cuma bawakan sekitar 10 lagu aja nyatanya.

Gak maksimal itu juga diperlihatkan dari minimnya dekor. Gue gak tau siapa yang seharusnya mengurus ini. Kalau ternyata yang menyiapkan segala keperluan panggung adalah tuan rumah, Yonif 201 Jaktim, gue maklum deh. Setau gue, markas tentara ini jarang (atau belum pernah) dijadikan tempat konser, apalagi sekelas Slank. Dan hasilnya terlihat juga. Pencahayaan minim. Lampu besar utama hanya ada tiga biji aja di sisi kanan panggung. Setau gue, seharusnya minimal ada enam, ditaruh di kiri kanan panggung. Apalagi untuk lapangan yang dilingkungi pepohonan seperti itu, lampu yang dipasang jadi sangat kurang. Dekor dari penyelenggara pun gak heboh. Hanya ada sejumlah spanduk atau logo2 Minak Djinggo. Lalu, di tengah2 konser, turun layar bergambar pohon seperti sampul album Slank baru itu. Thats all.

Yah, untung gue pemaklum. He2. Untung juga Slank gak sombong untuk menetapkan standar fasilitas yang sangat rinci. Kalau seperti itu, kasian bapak komandan Yonif 201. Denger2, dia punya niat baik untuk kasih hiburan buat warga situ.Yap, warga 201 itu. Jadi, mungkin niat itu yang mendorong dia untuk langsung menawarkan tempatnya untuk dijadikan tempat konser Slank yang lagi promosi album baru.

Secara keseluruhan sih, (meminjam istilah kawan gue) dilihat secara holistik aja nih, tentara 201 masih lebih baik daripada tentara Brimob. Ha3. Untung gue pemaklum. Maklumlah mereka lebih baik sama anak2 Slank karena kayaknya mereka jarang ketemuan sama Slankers yang kacrut. Beda dengan Brimob yang udah sering banget gaul bareng Slankers di sekitar Jakarta. Jadi, aparat Brimob lebih akrablah sama Slankers. Tapi, tentara 201 ini tentu udah banyak denger juga bahwa konser Slank sering rusuh. Makanya mereka bertindak preventif banget. Bapak Kapten yang gue temui bilang, dia nurunin 400 personel buat konser ini. Tentara2 ini siap siaga dari depan jalan raya Bogor sampai pintu masuk di dalam. Barikadenya tiga lapis. Tumpukan ban2 mobil dan pagar seng dipasang mengelilingi lingkungan lapangan tembak yang aslinya terbuka itu. Langkah2 selanjutnya gak jauh beda dengan yang dilakukan aparat polisi biasa. Mereka menyita botol air mineral, yah, karena takut buat timpuk2an nanti di lapangan. Mereka juga menyita bambu atau tongkat yang dipakai untuk tiang2 bendera Slankers. Mereka menyuruh cowo2 mengangkat bajunya, siapa tau ada yang bawa senjata. Nah, saat itulah, mereka juga menyita ikat pinggang yang dipakai semua orang yang masuk ke arena. Tentu ikat pinggang para tentara itu gak ikutan dilepas. Kasian, nanti gak ada yang menahan turunnya laju celana di perut sebagian dari mereka yang udah membuncit. Lagian, mana mau mereka sama seperti anak2 Slankers itu, yang ikat pinggang keren, mahal, dan gaulnya, berakhir hilang lenyap tak berbekas atau tersebar tergeletak tak bertuan di rerumputan tanpa penerangan.

Yah, lagi2, gue maklum akan semua itu. Gue paham banget, bapak komandan tentu gak ingin ada ribut2 di lingkungannya. Wong dia itu kan mau kasih hiburan ke warganya, bukan mau kasih rusuh2 kok. Ingat, hiburan! Nah, di sini menariknya. Warga 201 itu terdiri dari tentara, dan keluarganya tentu. Ya, tentu. Tapi, buat gue, tampak tidak lazim di mata gue ketika ada yang berpiknik ria di tengah lapangan konser itu! Ya, ada sejumlah kelompok ibu2 dengan anak2 kecil umur 5—10 tahunan makan nasi bungkus di bawah penerangan lampu handphone mereka. Mereka makan nasi bungkus pake mi dan ayam goreng. Anak2 kecil itu makan mi dengan lahap sementara ibunya mencomot ayam sambil menyorotkan sinar hp ke bekal piknik mereka. Wahh, serunyaaa!

Di lain sisi, banyak pemandangan bapak tentara ditemani istrinya menggandeng jagoan cilik atau menggendong putri manis mereka. Sang istri yang memegang minuman segar berwarna merah tersenyum. Lalu, si bocah merengek manja mengajak ayahnya menuju kerumunan dekat panggung. Lalu, ayah yang berpakaian loreng dan menyandang senjata itu berkata, “Di sini aja, ya. Bapak kan lagi jaga, Sayang…”

Oohh, thats so sweet… Im serious, its trully so sweet, not co cwiit!

U know what I mean, ha? Man, human, humanity…

Well,thats explain all…Thats all…

What should I say again? Im speechless…

Leave a Reply