Wajah Tuhan di Pantat Ronggeng

Perjumpaan gue dengan Ahmad Tohari akhir Januari lalu,
menjadi vitamin bagus buat otak liar gue. Juga otak liar kalian, kawan-kawan.
Entah ya, buat kawan-kawan gue yang sudah hebat, sudah mampu dengan mudah
mengendalikan keliaran khayal fantasi untuk bercinta, mungkin kata-kata Tohari
ini jadi biasa-biasa saja. Bahkan mungkin jadi konfrontasi buat otak mereka.
Tapi buat gue, kata-kata yang Tohari sampaikan, cukup mampu membendung khayal
itu tadi dengan anggukan paham dan diiringi kata, iya ya…

 

Gue buat perbandingan kisah gue dengan cerita Tohari
berikut ini. Kalian sebaiknya juga lakukan perbandingan serupa. Semoga nanti muncul
kesadaran bahwa kita sering terjebak bercinta dengan bebas, karena lebih sering
mendidihkan sensasi dan membekukan otak.

 

Suatu kali, Tohari menonton ronggeng. Sang ronggeng
menari dengan sensual, dengan tubuh indahnya yang kebanyakan membuat penonton
naik birahi. Tohari nonton itu bersama seorang pejabat pemerintah dan seorang
kiai. Dua orang di sebelahnya itu menundukkan muka, tak mau melihat hal yang
menurut mereka adalah aib. Namun, Tohari asyik-asyik saja melihat itu semua.
Kenapa?

 

AT: Mata harus dijaga dari
maksiat, itu dalilnya jelas. Dan tak mengada-ada. Masalahnya ada dalil yang
lain. Dalil ini sebetulnya dari Allah untuk orang-orang khusus dan yang lain
juga. Sama-sama dari Alquran. Dalil yang kedua bunyinya begini: apapun yang kau
lihat, di situlah wajah Tuhan. Ini, bayangkan itu, ya. Bayangkan ronggeng tadi
telanjang bulat sampai pantatnya kelihatan. Nah, mari kita matikan sensasi,
kita hidupkan akal. Masalahnya selama ini yang hidup cuma sensasi, akal
berhenti. Nah, kalau akal yang bicara, maka begini. Pantat yang menol-menol
itu, sebetulnya sekian trilyun atom air, sekian trilyun atom fosfor, sekian
trilyun atom protein, dan sebagainya. Itu bukan apa-apa. Ya, nggak? Betul, kan?
Menurut akal, kan, begitu? Sekarang kamu lihat tubuh laki-laki yang kayak…
seksi begitu. Jangan lupa itu juga kayak itu. Sekian trilyun atom air, sekian
trilyun fosfor, itu! Jadi, kita tidak boleh terlalu kagum. Kagumnya justru pada
mengapa sekian trilyun atom itu bisa berbentuk seperti itu, kemudian hidup,
bahkan kemudian punya kesadaran. Itulah wajah Tuhan. Itu loh…Jadi, di pantat
ronggeng pun ada wajah Tuhan. Dan ternyata Pak ini nggak tahu. Gitu loh…
Jadi, saya sih, asyik aja, haha…Nah, ini bedanya. Dua-duanya memang punya
dalil, tapi dalil yang kedua hanya untuk orang yang khusus.

 

A: Tapi, kan, masyarakat kita masih sangat awam
menggunakan dalil yang kedua. Upaya Bapak gimana?

AT: Ya, saya mengambil risiko itu.
Kalau tidak mau mengambil risiko, berarti saya tidak pernah berani mengatakan
akal. Sensasi terus. Padahal sensasi isinya bohong. Sensasi itu, kan, bukan
perasaan sebenarnya. Dilambung-lanbungkan sendiri. Sebetulnya, sih, nggak ada
apa-apanya. Misalnya, gini ya. Misalnya, cantik, siapalah…Blezsinsky itu,
kan, cantik. Siapa namanya?

 

A: Tamara.

AT: Ya. Itu, kan, sekarang. Coba 20 tahun lagi. Hahaha…
Lha iya, 30 tahun lagi, dikasih aja nggak mau itu. Tapi kalau disensasikan
sedemikian rupa, seolah-olah cantik itu abadi, gagah itu abadi, nikmat itu
abadi. Tolong sekali-kali akal bicara, jangan sensasi terus. Ya, risikonya
memang, ya, begitu. Sampai itu ada kiai yang mengatakan, “Apa kamu tidak menemukan
objek lain, sampai harus menulis ronggeng?” Kiai ini juga keblinger juga
ternyata kiai ini. Padahal dia itu sangat hapal ayat surat Albaqarah yang
berbunyi: la huma fi samaa waati wamaa
fil ardhi
; kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi. Apa itu dalam bahasa Arabnya ma. Nah, ronggeng ini masuk dalam
pengertian ma atau bukan?

 

A: Ma.

AT: Iya. Apa yang ada di bumi, itu semua milik Allah.
Termasuk ronggeng, bukan?

 

A: Ya.

AT: Iya, dong! Kalau itu milik Allah, kenapa nggak boleh
kita bicarakan? Kenapa nggak boleh kita kaji? Kenapa nggak boleh kita aduk-aduk
isinya? Kenapa? Harus boleh, dong! Boleh, cuma memang ada syaratnya. Syaratnya
itu, bismirabbikalladzi kholaq.
Ketika kita ngaduk-ngaduk perut ronggeng itu, pantatnya ronggengnya itu, kan,
ya, pijakan kita adalah bismirabbikalladzi
kholaq
; membaca dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Nanti dampaknya lain.
Kita bukan menjadi penikmat. Bukan menjadi sensasioner, tetapi sebagai
orang-orang yang sedang mencari amal. Gitu.

 

Pada akhirnya gue percaya, Tuhan dan hitam akrab sekali.
Gue gak perlu takut Tuhan akan ninggalin gue saat gue jatuh di lubang hitam.
Gue harus pandai-pandai mencari wajah Tuhan dalam kehitaman. Ya, seperti
mencari wajah Tuhan di pantat ronggeng. Setelah tahu, gue yakin, Tuhan akan
menemani gue mencari putih lagi.

 

Percayalah kawan, hitam dan Tuhan itu bermesraan.

4 Responses to “Wajah Tuhan di Pantat Ronggeng”

  1. anginsubuh Says:

    …sayang ide itu menjalar. Dan kita akan terus bersofistik, karena merasa itulah yang paling asyik. Lalu kita merasa sudah yakin benar menjadi orang-orang pilihan. Parahnya, kita jadi suka sering menebak-nebak; itulah jalan keluar. Kebetulan, karena tebakannya dirasa benar, lalu tenggorokan sudah “pede” berkoar-koar. Padahal siapa yang membenarkan? Lalu Tuhan (yang katanya - siapa? - ada di pantat) bisa diselipkan di ketiak, yang kalau kita bersin; berarti Tuhan sedang tersenyum.
    Ada di bulu-bulu hidung, yang kalau kita menghirup udara segar; berarti Tuhan sedang puber kedua. Eh, nggak ding; “hahaha, ternyata wajah Tuhan sudah kududuki dari tadi.” Ah, ternyata Tuhan bisa digagas dan bisa menjadi gagasan. Untungnya lagi, Tuhan bisa diobral, atau didiskon seperti tiket konser…

    Rasanya, dimensi dunia ini saja terlalu luas untuk bisa dimasuki semuanya, eh kita sudah merasa di jalan yang benar sambil bersiul lagu yang tadi pagi diciptakan di kamar mandi - untuk mendatangi alamatnya. Lalu dengan sok; menyeret Tuhan dari singgasananya, atau kalau memang bisa dibujuk - Tuhan dijanjikan akan ditraktir jus - asal mau menghadiri “launching” sebuah buku baru…

    Oh, siapa lagi yang ingin menjadi nabi hari ini? Siapa lagi yang merasa telah habis “mengunyah” BAB TERAKHIR kebenaran? Siapa lagi yang ingin menunjukkan KTP untuk membuktikan bahwa dialah turunan asli dari Musa, Khidir, Nuh, Ibrahim, Yunus atau kerabat Muhammad…

    Bahkan para DJ di klub atau di disko pun telah gagal menenangkan penjoged ketika mereka sudah pulang ke rumah - padahal tabloid, majalah “teeners”, atau pembuka botol Jidat Miring sudah sah menobatkan dia sebagai nabi…

    Oh, jika nanti pun ada nabi lagi; siapa pun, kirimilah kabar gembira untukku. Paling tidak, Surat Malam Minggu ayat 7…

    HEDONESIA No. 1 ???

  2. arne Says:

    mengenaskan, melihat sebuah ide hanya dari permukaan. mari kita bicara jauh, biar kau lihat bukan ada niat menjadi nabi di sini. ah ya, sedikit pesan, sebelum bicara, buang jauh-jauh dulu sensasi dirimu.

  3. anginsubuh Says:

    Tanpa melihat pun sebenarnya sebuah ide sudah bisa di bayangkan, maka buat apa lagi permukaan pantat itu - yang malah mengganggu penalaran untuk ide itu. Siapa bisa memberi arti dan kalkulasi sebuah kinesik, paralinguistik, atau petunjuk “cue”, siapa bisa mengharamkan sensasi kalau di depan mata stimuli begitu “memaksa” (barangkali, ya, untuk “si mati rasa”), siapa bisa memurnikan akal saat libido terlanjur naik, adakah pemikir sejati tetap menghitung setiap inci lekuk tubuh, sementara selangkangan (bahkan dari pasangannya sendiri yang sah - yang bertahun-tahun sebetulnya telah membosankan) mengapung di depan mata dengan aroma wangi? Adakah Adam menggunakan seluruh akal murninya ketika dia memohon untuk diciptakan Hawa? Toh, komunikasi secanggih apa pun tetap tak sepenuhnya bisa tepat dipahami (apalagi dalam konsep Tuhan), maka berhati-hati menggunakan kata itu perlu, dan aku percaya cara berlogika bisa keliru. Sebelum sampai kepada Tuhan; apakah ‘chip’ di kepala kita bisa terus bergerak teratur, sementara kita tidak mau disebut manusia mesin? Aku lebih percaya ‘chip’ itu hanya bisa bekerja di kepala malaikat. Aku Si Kerdil, yang tak bisa melihat dan tak bisa merasakan sensasi hembusan napas Tuhan di keramaian dan pada goyangan ronggeng dengan birama 3/4. Dan aku percaya ide itu liar dan menjalar, maka aku kadang takut karena itu. Aku lebih suka mengheningkan Tuhan daripada membicarakan dari jauh. Tabik.

  4. arne Says:

    nah, itu dia. aku yg bodoh ini justru harus pandai2 melihat Tuhan di berbagai benda ciptaannya yang nyata terpajang di mata. baguslah jika kau bisa temukan Tuhan dalam keheningan, sambil terus mengurung diri dalam gua sepi. hebat. tapi, tak semua orang sehebat kau.

Leave a Reply