Setelah ikut Siaware 12, mata dan hati yang semula sudah lumayan terbuka, jadi makin terbuka lagi. Saya jadi lebih tahu apa target berikut yang harus saya kejar. Percaya diri yang besar muncul untuk dunia kerja dan keluarga. Tapi cinta (halah!) masih juga merasa merana.

Saya jatuh cinta pada daun teh. Sayang, dia masih terlalu layu untuk dipetik. Hhh... susah bicara jadinya.

Sudahlah, lihat nanti saja.

                            

sahabat datang dan pergi
kadang mengkhianati
begitu pun rasa cinta
kadang mengecewakan

kita punya harga diri
kadang terpendam di hati
kita punya hati nurani
kadang tertimbun mati

kutertawa walau hati kecewa
kubernyanyi walau hati menangis

(Slank - H.A.M. burger)


Dari konser Slank di Depok:Its trully so sweet, not co cwiit!

Ada yang beda dari konser Slank yang kemarin gue datangi. Ada nuansa kekeluargaan yang menarik di sana. Meskipun rasa kekeluargaan itu tetap gak didapat secara keseluruhan, sedikit manisnya rasa keluarga itu muncul lewat cara yang gak biasa gue temui.

Konser Slank kemarin adalah rangkaian promo album terbaru mereka, Slow But Sure. Gue lupa, apa gue pernah mendatangi konser promo album mereka sebelumnya. Jadi, gue baru tau bahwa ternyata konser promo album ya seperti itu. Ya, mereka jelas membawakan sejumlah lagu baru dari album yang sedang dipromosikan. Selebihnya, mereka membawakan lagu lama yang dianggap cukup sesuai tema atau lagu yang emang booming banget untuk Slank. Dan untuk promo album ini, mereka terlihat sekali berusaha fokus di masalah lingkungan hidup. Ya, seperti lagu “Lapindo” yang berusaha memperlihatkan kepedulian mereka akan bencana lumpur panas di Sidoarjo. Yah, meskipun rasa-rasanya kepedulian mereka agak memaksakan. Tapi, jelas sekali mereka berusaha untuk memfokuskan diri pada masalah lingkungan. Misalnya, seperti yang ditunjukkan lewat layar besar di samping panggung yang memperlihatkan rekaman mereka bergulat di tengah sawah.

Sekadar iseng-iseng nih, kayaknya sponsor mereka juga memperlihatkan kecocokan dengan tema lingkungan yang mereka bawa. Di album ini Slank bergandengan dengan Minak Djinggo, yang kata kawan2 gue, itu adalah rokok jagung, rokok ndeso. Yah, tembakau atau jagung apa yang mereka maksud itu, rasanya membuat nuansa ndeso itu jadi muncul. Hehe, iseng banget ya mencocok2kan Minak Djinggo dengan ndeso? Bukan gitu, yang jelas terlihat sih, Minak Djinggo tampak ingin mengubah image produk mereka dengan mensponsori Slank yang komunitasnya anak muda. Seperti yang kebanyakan ada di benak anak2 muda, Minak Djinggo itu rokoknya orang tua. Bahkan, bokap gue yang tua gitu aja bilang Minak Djinggo itu rokoknya kakek2. He2... Dan yang gue lihat semalam itu benar adanya. Mereka dapat rokok kretek Djinggo gratis, barter sih sama sobekan kertas tiket. Namun, anak2 muda itu umumnya malas menghisap rokok itu. Gue sih gak tau apa beda rasa kretek sama filter yang dijadikan benteng alasan mereka kenapa gak mau menghisap kretek. Akhirnya, mereka lebih memilih untuk membarter rokok yang mereka dapat dengan air mineral. Satu bungkus Djinggo 4750 rupiah ditukar satu botol aqua 2000 rupiah. Kata mereka, lumayan.

Tapi, suasana ndeso yang katanya muncul lewat kretek itu, jelas gak muncul lewat lagu baru Slank lainnya. Dari lagu “My Scooter Love”, misalnya. Lagu itu ada untuk menggambarkan kegemaran baru anak2 Slank, Kaka khususnya. Seperti yang sering mereka tampilkan sendiri, mereka lagi seneng main skuter2an atau vespa2an. Hobi yang gak murah. Hobi senang2 memenuhi kebutuhan tersier. Jelas ini sangat tidak ndeso seperti yang ada di bayangan orang awam bahwa ndeso itu penuh kesederhanaan. Vespa biru Kaka juga muncul di panggung malam itu. Sayang kuping gue kurang awas. Suara ngegas yang dipakai untuk efek lagu “My Scooter Love” itu muncul asli dari vespa itu atau cuma rekaman. Gue sih curiga itu cuma rekaman karena di beberapa sesi break, mereka juga cuma memutar rekaman lagu aja.

Ini mungkin cerita biasa buat orang2 yang sering datang ke konser Slank. Buat gue sendiri, hmm, ini sih agak gak biasa. Menurut gue, mereka gak tampil maksimal. Entah ya, apa mungkin untuk konser promo memang hanya seperti ini yang bisa mereka kasih. Berita dari tentara penjaga yang bilang Slank akan bawain 23 lagu ternyata hanya jadi gosip belaka. Mereka cuma bawakan sekitar 10 lagu aja nyatanya.

Gak maksimal itu juga diperlihatkan dari minimnya dekor. Gue gak tau siapa yang seharusnya mengurus ini. Kalau ternyata yang menyiapkan segala keperluan panggung adalah tuan rumah, Yonif 201 Jaktim, gue maklum deh. Setau gue, markas tentara ini jarang (atau belum pernah) dijadikan tempat konser, apalagi sekelas Slank. Dan hasilnya terlihat juga. Pencahayaan minim. Lampu besar utama hanya ada tiga biji aja di sisi kanan panggung. Setau gue, seharusnya minimal ada enam, ditaruh di kiri kanan panggung. Apalagi untuk lapangan yang dilingkungi pepohonan seperti itu, lampu yang dipasang jadi sangat kurang. Dekor dari penyelenggara pun gak heboh. Hanya ada sejumlah spanduk atau logo2 Minak Djinggo. Lalu, di tengah2 konser, turun layar bergambar pohon seperti sampul album Slank baru itu. Thats all.

Yah, untung gue pemaklum. He2. Untung juga Slank gak sombong untuk menetapkan standar fasilitas yang sangat rinci. Kalau seperti itu, kasian bapak komandan Yonif 201. Denger2, dia punya niat baik untuk kasih hiburan buat warga situ.Yap, warga 201 itu. Jadi, mungkin niat itu yang mendorong dia untuk langsung menawarkan tempatnya untuk dijadikan tempat konser Slank yang lagi promosi album baru.

Secara keseluruhan sih, (meminjam istilah kawan gue) dilihat secara holistik aja nih, tentara 201 masih lebih baik daripada tentara Brimob. Ha3. Untung gue pemaklum. Maklumlah mereka lebih baik sama anak2 Slank karena kayaknya mereka jarang ketemuan sama Slankers yang kacrut. Beda dengan Brimob yang udah sering banget gaul bareng Slankers di sekitar Jakarta. Jadi, aparat Brimob lebih akrablah sama Slankers. Tapi, tentara 201 ini tentu udah banyak denger juga bahwa konser Slank sering rusuh. Makanya mereka bertindak preventif banget. Bapak Kapten yang gue temui bilang, dia nurunin 400 personel buat konser ini. Tentara2 ini siap siaga dari depan jalan raya Bogor sampai pintu masuk di dalam. Barikadenya tiga lapis. Tumpukan ban2 mobil dan pagar seng dipasang mengelilingi lingkungan lapangan tembak yang aslinya terbuka itu. Langkah2 selanjutnya gak jauh beda dengan yang dilakukan aparat polisi biasa. Mereka menyita botol air mineral, yah, karena takut buat timpuk2an nanti di lapangan. Mereka juga menyita bambu atau tongkat yang dipakai untuk tiang2 bendera Slankers. Mereka menyuruh cowo2 mengangkat bajunya, siapa tau ada yang bawa senjata. Nah, saat itulah, mereka juga menyita ikat pinggang yang dipakai semua orang yang masuk ke arena. Tentu ikat pinggang para tentara itu gak ikutan dilepas. Kasian, nanti gak ada yang menahan turunnya laju celana di perut sebagian dari mereka yang udah membuncit. Lagian, mana mau mereka sama seperti anak2 Slankers itu, yang ikat pinggang keren, mahal, dan gaulnya, berakhir hilang lenyap tak berbekas atau tersebar tergeletak tak bertuan di rerumputan tanpa penerangan.

Yah, lagi2, gue maklum akan semua itu. Gue paham banget, bapak komandan tentu gak ingin ada ribut2 di lingkungannya. Wong dia itu kan mau kasih hiburan ke warganya, bukan mau kasih rusuh2 kok. Ingat, hiburan! Nah, di sini menariknya. Warga 201 itu terdiri dari tentara, dan keluarganya tentu. Ya, tentu. Tapi, buat gue, tampak tidak lazim di mata gue ketika ada yang berpiknik ria di tengah lapangan konser itu! Ya, ada sejumlah kelompok ibu2 dengan anak2 kecil umur 5—10 tahunan makan nasi bungkus di bawah penerangan lampu handphone mereka. Mereka makan nasi bungkus pake mi dan ayam goreng. Anak2 kecil itu makan mi dengan lahap sementara ibunya mencomot ayam sambil menyorotkan sinar hp ke bekal piknik mereka. Wahh, serunyaaa!

Di lain sisi, banyak pemandangan bapak tentara ditemani istrinya menggandeng jagoan cilik atau menggendong putri manis mereka. Sang istri yang memegang minuman segar berwarna merah tersenyum. Lalu, si bocah merengek manja mengajak ayahnya menuju kerumunan dekat panggung. Lalu, ayah yang berpakaian loreng dan menyandang senjata itu berkata, “Di sini aja, ya. Bapak kan lagi jaga, Sayang...”

Oohh, thats so sweet... Im serious, its trully so sweet, not co cwiit!
U know what I mean, ha? Man, human, humanity...
Well,thats explain all...Thats all...
What should I say again? Im speechless...

harap

Mengharap, berharap, diharap, harap-harap…


Hari lahir tahun ini penuh harapan, seperti harapan di tahun-tahun sebelumnya. Ah, tampaknya tidak juga. Sebab nyatanya banyak harapan yang berbeda, yang lebih luar biasa.


Pagi hari 4 mei, aku diberi hadiah terindah oleh Tuhan. Demam dan pening yang lumayan membuat badan lemah bergerak. Tentu sakit bukanlah hadiah yang kuharapkan. Doa yang sering terucap pertama saat ulang tahun adalah semoga sehat selalu, bukan? Dan pagi itu aku diberi sakit. Tapi akhirnya sakit itu kuanggap hadiah yang terindah sebab pagi itu aku ditampar Tuhan untuk kembali mengingat keberadaan. Mengingat berjuta kesalahan yang sudah kulakukan setahun belakangan. Mengingat kemalasan yang membuatku tak bergerak mencapai kemajuan. Mengingat orangtua yang seringkali kusia-siakan. Tamparan hebat di pagi hari, membuat sadar hinanya diri!


Seorang kawan berkata: Hadiah terindah tidak terduga ujudnya. Apakah yang kita harapkan atau tidak. Jadi, tenang saja. Ada saatnya untuk yang tepat. Lekas sembuh. Selamat ulang tahun.


Sesiang itu aku di rumah saja, ditemani kedua orang tua yang tersenyum sepanjang hari. Yang tidak menciumi anaknya, tetapi mensyukuri hari untuk anaknya. Membuatku tertawa. Menenangkanku yang berharap kakak segera pulang untuk melengkapi hari itu.


Sesiang itu aku juga membacai sms. Yang mencari-cariku di kampus, yang hilang di hari itu. Juga yang mengucapkan banyak doa, dan banyak harapan. Menyenangkan sekali. Mendapat banyak doa yang bahkan aku pun tak terpikir untuk berharap itu.


Seorang kawan berkata: Teguk saja madu kebahagiaan hari ini, walau tidak dipungkiri, makin kita beranjak dari umur yang awalnya berangka satu, kita makin tidak merasakan lagi euforia hari lahir. Wajar sekali. Sudah, tidak perlu sulit, pejamkan mata saja, rasakan Cinta dan rasa peduli yang begitu harum menguar di sekelilingmu.


Begitu saja seharian. Hingga malam. Hingga mata ingin segera terpejam.


Seorang kawan berkata: Kita semakin dekat dengan kematian. Jangan sedih. Jadikan kematianmu nanti sebagai kematian yang indah.


Rasanya lelah juga menjalani hidup. Ingin rasanya segera mencapai kematian, tapi bekal pun belum ada. Ingin rasanya tertidur sejenak, supaya ‘Billy’ bisa istirahat dan digantikan kepribadian kawan-kawan lainnya.


Seorang kawan berkata: Niatnya pengen jadi closing hari istimewa lo. Tapi rupanya lo udah meng-close seluler dan mata lo. Happy bday, siz! Hope u’ll get d best think u want. Agak luv u. ;p


Aku sudah menduga kawanku ini akan menutup sms hari itu. Tapi rasanya ada sesuatu yang hilang. Ternyata sedih sekali saat menyadari ada seseorang yang aku harapkan untuk meramaikan hari itu, tetapi ternyata ia tidak muncul. Padahal orang inilah yang diharapkan ada di hari itu. Dan nyatanya, hingga hari ini, dia tidak juga muncul. Menyakitkan rasanya, tapi bisa apa?


Meskipun tak bisa apa-apa, aku yakin aku bukanlah bukan apa-apa. Aku tahu aku bukan Tuhan, yang bisa begitu saja menebar rahmat pada umatnya. Sesekali aku berharap dapat kembali, perhatian yang sederhana. Tapi, aku harus belajar memahami lagi arti kehendak, arti harapan. Ya. Lagi-lagi aku tersadar, apa yang diharapkan belum tentu didapatkan.


Seorang kawan berkata: Ini tanggal lahirmu bukan? Mungkin hari ini kau kebetulan mengingat, “Lalu aku ini apa?” Sesekali, dalam usimu kini, ada yang terlintas, “Setelah hidup, apa pula arti kehendak itu?”  (QS 16:4 – QS 51:56)




mei

Pagi ini bokap gue bilang, “Kok gak ada yang kasih Bapak ucapan selamat?” Sambil mikir nyokap balik tanya, “Emang ada apa?” Bokap bilang, “Sekarang kan hari buruh.” Nyokap seketika itu tersenyum-senyum sendiri. Entah, menyadari apa, mungkin merasa lucu karena ia merasa seharusnya hal itu bukan sesuatu yang patut dirayakan. Tapi kemudian nyokap bilang, seharusnya majikan-majikan bokap itu yang memberi selamat,memberi hadiah, memberi tambahan gaji,memberi tunjangan entah apalagi,demi buruhnya ini. Tapi, bokap gak bilang apa-apa. Dia diam aja, mungkin udah pasrah aja sama nasibnya sebagai buruh.

Meskipun begitu, sejauh yang bisa gue perhatikan, begitulah, bokap sumarah. Tapi bukan sumarah yang pasrah lalu tak berbuat apa-apa. Dia tetap berusaha kasih apa aja yang dia punya. Yang paling besar adalah tenaganya untuk bekerja keras. Mengeluh seringkali terdengar, tapi itu gak menghalangi dia jadi malas dan gak mau bekerja lagi. Dia bilang, “Kalau nurutin bosan, Bapak bosan banget, kerja 20 tahun gini-gini aja, tapi kalau cuma ini yang bisa dilakukan, ya lakukan aja dengan sebaik-baiknya.”

Mendengar itu, gue jadi malu. Dua tahun terakhir ini gue juga bosan sama hidup gue. Udah berjuta kata-kata makian keluar hanya untuk bilang “Life sucks!” Trus lo mau apa, Ne? Cuma mau mengumpat dan menjadi lemah karena itu? Ahh...

Dua tahun terakhir gue sering merasa jadi makhluk paling merana sedunia. Padahal kalau otak gue mau berputar sedikit aja, gue pasti merasa sangat beruntung di dunia. Otak gue nyatanya lebih memilih untuk berhenti, memanjakan perasaan, hidup di dunia gelap, berhitam-hitam, meratapi nasib, mengutuk karunia. Ahh! Gue pernah bilang gue gak mau jadi Annelies yang hanya bisa meratapi nasibnya tak bisa bersama dengan Minke. Gue bisa kok jadi Annelies yang tangguh mengurus kuda-kudanya. Tapi kemarin gue memilih untuk jadi Annelies yang gak mau makan, sedih habis-habisan karena Minke nya pergi. Argh, lalu buat apa gue bernama arnellis dengan R yang tegar itu?

Padahal cahaya sering singgah juga ke gua gelap gue,menegur, mengajak keluar, menunjukkan bahwa di luar sana ada hidup yang penuh sinar. Tapi, nyatanya dua tahun terakhir ini gue memilih untuk bertahan aja di gua itu. Gue bodoh? Ya! Kemarin sempat juga gue berkenalan dengan tali tambang, berniat menyematkannya di leher. Tapi, gue takut. Gue ingat sober ‘aku bosan hidup ini tapi belum siap mati’. Takut juga jadi hantu gentayangan yang gak diterima Tuhan. Ahh! Lagipula gue jadi ingat juga, sudah setahun ini Pram mati, tapi masih aja dia dikenang. Kenapa? Karena dia sudah berkarya. Lalu, gue? Tak kan lah gue dikenang jika karya gue pun belum  datang.

Gue akan jadi minke alias monyet beneran kalau gue masih juga bertahan di kehitaman. Ini gak ada kaitannya dengan ‘mereka bilang saya monyet’. Ini iseng-iseng gue aja yang menghubungkan peristiwa kemarin dengan hidup yang lagi gue jalani. Kemarin, Putu Wijaya menunjuk muka gue sambil bilang “monyet!” Kebetulan aja waktu dia cerita tentang memek, dia ngiter2, kemudian ketemu gue dan menunjuk gue. Yah, selintas aja. Tentu apa yang baru dia lakukan gak akan diingatnya lagi. Tapi, gue bisa jadi monyet beneran, yang cuma bermain-main dengan keluguannya, mencari kutu di rambut pasangannya, memijat punggung pasangannya, hingga menjilati daerah pribadi pasangannya. Harusnya ya gue gak boleh jadi monyet. Bahkan monyet dalam cerita Putu aja gak mau sembarangan ‘dibegitukan’, apalagi gue!

Ahh! Sekarang bulan Mei ya? Masuk 22 tahun gue hidup di sini. Apalagi yang mau gue geluti? Ya, sekarang gue harus semakin sering ketemu Tuhan. Lalu bertanya, apa dia benar-benar menggendong gue seperti kata kawan gue. Dia bilang, hidup ini seperti berjalan di pantai sambil melihat laut luas. Saat kita berjalan itu, akan tertinggal jejak-jejak di pasir putih. Tapi ternyata jejak itu bukan jejak kaki kita sebab ukurannya pun tak sama seperti tapak kaki kita. Ternyata, itu adalah jejak Tuhan yang menggendong tubuh kita. Kita yang tentukan arahnya, maka dia yang gerakkan kaki kita.

Nah, siang ini gue mulai dapatkan lagi deg-degan dan gairah yang kemarin sempat hilang: bab 2 skripsi gue gimana,nih???

Wajah Tuhan di Pantat Ronggeng

Perjumpaan gue dengan Ahmad Tohari akhir Januari lalu, menjadi vitamin bagus buat otak liar gue. Juga otak liar kalian, kawan-kawan. Entah ya, buat kawan-kawan gue yang sudah hebat, sudah mampu dengan mudah mengendalikan keliaran khayal fantasi untuk bercinta, mungkin kata-kata Tohari ini jadi biasa-biasa saja. Bahkan mungkin jadi konfrontasi buat otak mereka. Tapi buat gue, kata-kata yang Tohari sampaikan, cukup mampu membendung khayal itu tadi dengan anggukan paham dan diiringi kata, iya ya…

 

Gue buat perbandingan kisah gue dengan cerita Tohari berikut ini. Kalian sebaiknya juga lakukan perbandingan serupa. Semoga nanti muncul kesadaran bahwa kita sering terjebak bercinta dengan bebas, karena lebih sering mendidihkan sensasi dan membekukan otak.

 

Suatu kali, Tohari menonton ronggeng. Sang ronggeng menari dengan sensual, dengan tubuh indahnya yang kebanyakan membuat penonton naik birahi. Tohari nonton itu bersama seorang pejabat pemerintah dan seorang kiai. Dua orang di sebelahnya itu menundukkan muka, tak mau melihat hal yang menurut mereka adalah aib. Namun, Tohari asyik-asyik saja melihat itu semua. Kenapa?

 

AT: Mata harus dijaga dari maksiat, itu dalilnya jelas. Dan tak mengada-ada. Masalahnya ada dalil yang lain. Dalil ini sebetulnya dari Allah untuk orang-orang khusus dan yang lain juga. Sama-sama dari Alquran. Dalil yang kedua bunyinya begini: apapun yang kau lihat, di situlah wajah Tuhan. Ini, bayangkan itu, ya. Bayangkan ronggeng tadi telanjang bulat sampai pantatnya kelihatan. Nah, mari kita matikan sensasi, kita hidupkan akal. Masalahnya selama ini yang hidup cuma sensasi, akal berhenti. Nah, kalau akal yang bicara, maka begini. Pantat yang menol-menol itu, sebetulnya sekian trilyun atom air, sekian trilyun atom fosfor, sekian trilyun atom protein, dan sebagainya. Itu bukan apa-apa. Ya, nggak? Betul, kan? Menurut akal, kan, begitu? Sekarang kamu lihat tubuh laki-laki yang kayak... seksi begitu. Jangan lupa itu juga kayak itu. Sekian trilyun atom air, sekian trilyun fosfor, itu! Jadi, kita tidak boleh terlalu kagum. Kagumnya justru pada mengapa sekian trilyun atom itu bisa berbentuk seperti itu, kemudian hidup, bahkan kemudian punya kesadaran. Itulah wajah Tuhan. Itu loh...Jadi, di pantat ronggeng pun ada wajah Tuhan. Dan ternyata Pak ini nggak tahu. Gitu loh... Jadi, saya sih, asyik aja, haha...Nah, ini bedanya. Dua-duanya memang punya dalil, tapi dalil yang kedua hanya untuk orang yang khusus.

 

A: Tapi, kan, masyarakat kita masih sangat awam menggunakan dalil yang kedua. Upaya Bapak gimana?

AT: Ya, saya mengambil risiko itu. Kalau tidak mau mengambil risiko, berarti saya tidak pernah berani mengatakan akal. Sensasi terus. Padahal sensasi isinya bohong. Sensasi itu, kan, bukan perasaan sebenarnya. Dilambung-lanbungkan sendiri. Sebetulnya, sih, nggak ada apa-apanya. Misalnya, gini ya. Misalnya, cantik, siapalah...Blezsinsky itu, kan, cantik. Siapa namanya?

 

A: Tamara.

AT: Ya. Itu, kan, sekarang. Coba 20 tahun lagi. Hahaha... Lha iya, 30 tahun lagi, dikasih aja nggak mau itu. Tapi kalau disensasikan sedemikian rupa, seolah-olah cantik itu abadi, gagah itu abadi, nikmat itu abadi. Tolong sekali-kali akal bicara, jangan sensasi terus. Ya, risikonya memang, ya, begitu. Sampai itu ada kiai yang mengatakan, “Apa kamu tidak menemukan objek lain, sampai harus menulis ronggeng?” Kiai ini juga keblinger juga ternyata kiai ini. Padahal dia itu sangat hapal ayat surat Albaqarah yang berbunyi: la huma fi samaa waati wamaa fil ardhi; kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Apa itu dalam bahasa Arabnya ma. Nah, ronggeng ini masuk dalam pengertian ma atau bukan?

 

A: Ma.

AT: Iya. Apa yang ada di bumi, itu semua milik Allah. Termasuk ronggeng, bukan?

 

A: Ya.

AT: Iya, dong! Kalau itu milik Allah, kenapa nggak boleh kita bicarakan? Kenapa nggak boleh kita kaji? Kenapa nggak boleh kita aduk-aduk isinya? Kenapa? Harus boleh, dong! Boleh, cuma memang ada syaratnya. Syaratnya itu, bismirabbikalladzi kholaq. Ketika kita ngaduk-ngaduk perut ronggeng itu, pantatnya ronggengnya itu, kan, ya, pijakan kita adalah bismirabbikalladzi kholaq; membaca dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Nanti dampaknya lain. Kita bukan menjadi penikmat. Bukan menjadi sensasioner, tetapi sebagai orang-orang yang sedang mencari amal. Gitu.

 

Pada akhirnya gue percaya, Tuhan dan hitam akrab sekali. Gue gak perlu takut Tuhan akan ninggalin gue saat gue jatuh di lubang hitam. Gue harus pandai-pandai mencari wajah Tuhan dalam kehitaman. Ya, seperti mencari wajah Tuhan di pantat ronggeng. Setelah tahu, gue yakin, Tuhan akan menemani gue mencari putih lagi.

 

Percayalah kawan, hitam dan Tuhan itu bermesraan.


kalian harus tahu: APARAT KEPARAT! BANGSAT!!!

UAS sudah sangat menyesakkan hati. Maka, seperti sewajarnya manusia, gue mencari kegiatan untuk menyegarkan pikiran. Biasanya, setelah itu, akan muncul ide-ide baru yang lebih fresh. Lumayan buat mengisi pasokan vitamin hati.


Maka larilah gue ke Ancol untuk mencari kesegaran itu. Ya, gue dapatkan kesegaran, sekaligus ide baru yang segar untuk makalah akhir gender dalam sastra yang harus gue kumpulkan hari ini. Taukah? Makalah gender gue akhirnya mengangkat tema kekerasan. Kenapa? Kerana itulah yang gue temui di Ancol pada malam harinya.


Sejak jauh-jauh hari, gue sudah mengagendakan untuk pergi ke konser ulang tahun Slank nanti. Dan ketika gue tahu Slankfest Indie 23th Bday itu dilaksanakan di Ancol tanggal 27, bertepatan dengan deadline ujian-ujian gue, pusing sekaligus senang juga gue. Pusing karena harus membagi-bagi lebih, tapi ya senang juga karena minggu ujian gue jadi ada bumbu manisnya.


Itu bayangan di awal.


Gue sampai di sana jam 8 malam. Udah lewat jauh dari jam mulai, jam 10 pagi. Yah, emang harus kecewa berat dulu dengan kawan gue karena memolorkan janjinya untuk pergi jam 4 sore. Tapi, gak apa-apa. Meskipun kesel karena gak bisa berpuas-puas lihat-lihat keseluruhan acara dan sajian pendukungnya, gue harus bersyukur juga karena bisa solat magrib di rumah. Maklum, kalau udah di sana, sulit buat kita (terutama perempuan) untuk bisa solat dengan bahagia. Panitia kan menyiapkan tempat untuk berpesta, jadi kebutuhan akan hal-hal seperti solat (yang jelas bukan pesta) harus minggir dulu.


Masuk ke kerumunan depan panggung utama (panggung ada dua), emosi udah mulai naik. Emosi yang bagus, emosi buat olahraga membuang keringat bersenang-senang dengan bernyanyi dan berjingkrakan. Dari jam 9, gue masih bisa seru nikmatin Shaggydog yang bikin “Bangsat Cantik” jadi reggae asik. Kaka yang mencoba “Hapus Aku” bersama kembaran rambutnya, Giring Nidji. Juga terpukau oleh Whiteshoes yang bikin gue “Terbunuh Sepi” dengan aroma 70-an yang melenakan. Gue bersenang hati dengan itu semua, sampai…


ada aparat yang mukul gue!!!


Kejadiannya berlangsung cepat. Seperti biasa, gak ada yang tahu siapa yang main api, yang jelas kerumunan penonton berhamburan kocar-kacir ke sana-sini. Rusuh. Botol-botol beterbangan. Slankers dan polisi berlarian. Dengan maksud cari aman, slankers biasanya akan menyingkir ke mana saja ketika ada aparat yang turun pake helm dan pentungan yang mengejar mereka.


Gue, bareng tiga kawan gue, ada di depan tengah panggung. Kami ikut terseret arus anak-anak yang menyingkir menuju pagar batas panggung. Kaki udah pasang kuda-kuda sekuat mungkin, tapi, tetap aja, seringkali kaki gak berpijak di tanah. Sambil jalan mundur, mata gue dan lainnya disuguhi pemandangan anggota polisi brimob yang sibuk mengejar dan memukuli siapa aja yang ada di dekatnya. Barisan mundur di belakang gue berjatuhan. Sementara di depan kami, ada seorang anak yang dipukulin banyak polisi. Seorang kawan gue memutuskan agar kami tetap berada di posisi terakhir, dengan pertimbangan untuk nunjukin bahwa kami emang gak salah. Sebetulnya emang gak jelas dan gak menjamin sama sekali, dengan menyingkir berarti membuktikan bahwa bukan saya yang salah. Dalam keadaan seperti itu, mereka akan memukuli siapa aja yang ada di depan mereka. Bahkan yang udah menyingkir, tapi masih ada di pinggir barisan dan gak terlindung, juga gak luput dari pukulan mereka, atau minimal tatapan horor minta disegani.


Entah gimana, tiba-tiba ada tangan seorang polisi Brimob melayang ke arah gue. Seorang kawan gue yang sejak tadi memegangi tangan gue supaya gak terjatuh, terkena pukulan tangan polisi tadi. Pukulan tangan itu mengarah ke kepala dan telinga kanannya. Kepala gue terbentur kepala kawan gue itu. Sontak kawan gue bilang, “Biadab! Ada cewek nih, bangsat!” Beberapa polisi lainnya mengerubungi kami. Ada yang kembali ingin memukul. Namun, gak jadi karena dua kawan gue lainnya ikut berteriak bahwa salah satu dari kami adalah perempuan. Polisi-polisi itu akhirnya hanya mengelilingi kami dengan tatapan tajam dan sok angker mereka. Kawan gue lainnya yang berada di belakang kena tampar. Kami hanya bisa berputar-putar. Tiga kawan laki-laki gue itu mengelilingi gue dan berputar. Saat itu baru kami sadari bahwa kami ada di tengah-tengah lapangan kosong dan dikelilingi polisi-polisi bangsat itu. Slankers lain kebanyakan menyingkir hingga dua lapis saja di dekat pagar batas panggung. Musik yang lagi dimainkan berhenti. Lampu yang tadinya mati, menyala terang sejak ribut tadi dimulai.


Kami seperti empat orang tertuduh di tengah ruang gelap interogasi.


Gue pikir telah berakhir. Saat kami berputar, di belakang kami para polisi sudah mendapatkan buruannya yang tadi lari. Seorang Slankers terjatuh-jatuh sambil menutupi kepalanya ketika sejumlah polisi mengerumuninya, menjatuhkan pukulan dan tendangan ke tubuhnya yang kecil itu. Posisi anak itu dekat dengan kami. Gue dan dua kawan gue gak bisa apa-apa. Gue hanya bisa berteriak-teriak, “Udah pak! Ya ampun! Udah! Bangsat!” Seorang kawan gue lainnya hanya bisa terdiam melihat itu. Anak itu kemudian digelandang setelah bidadari penyelamat (kru keamanan Pulau Biru) turun dan membubarkan keadaan itu.


Gue dengar, entah Bim2 entah Kaka, bilang (kira-kira begini),”Yok, udah, liat ke sini lagi, kita lanjutin lagi.” Saat itu gue gak berpikir apa-apa tentang kalimat itu karena gue keburu dihampiri sama Imay, salah satu bidadari penyelamat. Dia menanyakan kondisi kawan gue yang kena pukul, juga keadaan gue. Blambir menyala lagi, menyemburkan air laut ke tengah lapangan. Gue dan kawan-kawan malah jadi sibuk melindungi Imay yang minta ditutupi karena membawa toa. Kita malah ketawa-tawa, sibuk membungkus toa supaya gak kena basah.


Sebetulnya saat itu mood gue jelas ngedrop. Baru kali ini gue melihat kekerasan dilakukan terhadap gue. Kalau selama ini hanya lewat tv gue lihat mahasiswa atau warga yang bentrok dengan polisi, sekarang gue dkk yang mengalami itu. Kawan gue yang kena pukul itu gak henti-henti bilang, aparat keparat, biadab, anjing, bangsat! Gue juga ikut menebar sumpah serapah, tapi seringkali juga diam gak tau lagi harus apa.


Di perjalanan pulang, kami sibuk membahas kejadian tadi. Kawan gue yang ketika kejadian berlangsung hanya diam, bilang bahwa kita gak akan bisa berargumen apa-apa di lapangan. Dia bilang, lebih baik, lihat badge polisi itu dan nanti cari di luar. Kenapa? Karena saat di lapangan, kita semua akan dianggap salah. Mereka akan menarik siapa saja karena mereka butuh seorang kambing hitam. Tapi, darimana mereka dapat keyakinan bahwa laki-laki kecil yang mereka giring tadi adalah biang rusuhnya? Coba, dengan keyakinan apa dia bisa memukul kawan gue yang gak melakukan kesalahan apapun? 


Masih kata kawan gue. Posisi kita akan dibuat serba salah. Kalau ikut mundur ke tepian, ada dua pilihan: satu, kita menyingkir tapi dianggap salah, dan dua, kita merasa benar tapi kena hantam juga. Pilih mana? Kami pilih yang kedua, karena kami tidak merasa salah. Mungkin orang lain bilang itu bodoh, karena seperti menyodorkan badan. Tapi, lagi-lagi, apa jaminannya jika menyingkir maka kita selamat?


Ada masalah gender juga di sini. Polisi itu berhenti menghadang setelah kawan-kawan gue bilang salah satu dari kami adalah perempuan. Gue seperti dijadikan alat perlindungan. Jadi karena gue perempuan, gue gak boleh dipukul, tapi kawan laki-laki gue boleh? Kenapa gak pukul kami semua? Atau, yang mulia adalah ya jangan pukul kami tanpa lihat mana laki-laki dan mana perempuan!


Kawan gue juga mempertanyakan peran Slank yang gak berkoar setajam dulu pada polisi. Biasanya mereka akan bilang macam-macam, meminta polisi untuk udahan kalau ada Slankers yang dipukul. Kalau ada rusuh, mereka akan berhenti main, dengan tegas meminta kita untuk udahan, baru nanti dilanjutkan lagi kalau udah tenang. Sayang, itu dulu. Kemarin gue sama sekali gak melihat usaha Slank untuk melindungi kami. Pasti Kaka bisa berkata sesuatu karena dia bisa lihat dengan jelas adegan kami. Bayangkan, lampu panggung mati. Lampu samping panggung menyorot ke lapangan. Di lapangan ada kami yang berdiri berempat dikelilingi aparat macam anjing mengincar tulang itu. Ada juga si Slankers kecil yang dipukuli itu, yang jelas2 bikin hati sakit. Tapi, mana suara Slank? Setelah usai, dia hanya berkata: Yok, udah, liat ke sini lagi, kita lanjutin lagi!


Ah, bahasan kita lumayan panjang, belum juga selesai hingga hari ini. Seorang kawan gue bilang, belajarlah untuk memaafkan, dengan menempatkan diri di posisinya. Ya, mungkin itu akan berguna. Tapi, sekarang, gue belum mau untuk itu. Di otak dan hati, gue masih belum mendapat jawaban yang bisa membenarkan perlakuan mereka ke kami.


Dan maaf, kalau hingga sekarang, gue masih menyerukan kata ini pada mereka: BANGSAT! 

kenapa laki-laki malam di dunia maya hobi banget pamer adik mereka yang kecil-kecil itu???

padahal, adik-adik mereka tuh cuma seukuran hobbit dalam dunia gandalf. lalu, mereka sibuk bertanya, "kamu suka?" dengan bangganya. hah??? apa mereka pikir saya bisa disuguhi pisang mas? Lha wong saya sukanya pisang raja-raja Ambon!!!

tapi, tak apa. lumayan menghibur mata yang mengantuk setelah bergaul dengan bromocorah secamenggala. semalam suntuk! bersama sandaran perahu hatiku yang tak pernah berhenti bertualang mengarungi samudera cinta... (^^,)

sekarang, mau  pulang. capek...



jakarta pagi ini...


tired7even

gue nikah!

wah? ada gosip: gue nikah!

hmm, emang baru2 ini ada temen gue yang nikah: andien dan sepridina. yang nikahan andien gue gak datang, ya karena gak diundang, hehe. yang nikahan sepridina gue dateng bareng agung sos 5 dan temen2 sos 2.

gue juga lagi sering ke undangan pernikahan: kak aan dan tante aty. yang kak aan, gue jadi mc akad nikah. yang tante aty, gue diajak nguga dan keluarganya.

lalu, bukan berarti gue juga lantas ikut menikah, sekarang pula!

agak menyeramkan juga membayangkan gue menikah sekarang. skripsi belum selesai, bahkan baru mengerjakan uas biasa. gue masih ingin ke rumah ahmad tohari tanpa harus meninggalkan pacar, ah, tapi, pacar juga gak ada. masih ingin nonton konser slank (sebentar lagi nih!) sama anak2 tongkrongan. masih ingin belajar bermain di media jurnalistik, semoga berkelanjutan. masih ingin bersuka ria sendiri.

beberapa pernikahan yang gue hadiri emang selalu menyisakan haru. kesakralan yang luar biasa. penghapusan noda lama dengan pemutih suci.  ya, ingin juga  melakukannya, tapi kapan, ya? kalau ada yang bersiap dan bisa membuat gue siap, ya gak apa! meskipun menyeramkan, harus dilakoni juga!

ya, tapi tentang gosip itu, buang saja!
tapi, senang juga, diperhatikan kawan2!

makasih ya...

titel = njudul..

tujuh kali tujuh, di pantai...

stuju ga stuju, harus santai...